Kamis, 22 Januari 2026

Cairo Conspiracy: Antara Iman, Kekuasaan dan Politik.

Tahun lalu, sebelum pemilihan paus yang baru, kita dikejutkan dengan diedarkannya film berjudul Conclave (2025) yang berhasil mempotret dengan baik rangkaian proses pemilihan paus yang baru dengan suatu sistem yang bernama konklaf. Di sana kita bisa melihat intrik politik dari berbagai faksi dengan berbagai kepentingannya saling beradu mencari suara demi mengamankan posisi paus. Suatu jabatan yang nantinya akan menjadi rantai tertinggi dalam komando keagamaan Umat Katolik sedunia.

Jauh sebelum Conclave yang disutradai oleh Edward Berger tersebut, ternyata ada juga yang berhasil mempotret bagaimana agama dan legitimasinya menjadi instrumen yang sangat penting dalam mempertahankan kekuasaan. Hal itu dipotret juga dengan baik oleh film yang disutradarai oleh Tarik Saleh dengan judul: Cairo Conspiracy atau dalam bahasa Mesir mereka menyebutnya Boy from Heaven. Bedanganya dengan Conclave, Cairo Conspiracy menyorotinya dari sudut pandang dunia Islam-Mesir yang sangat tergantung pada posisi Grand Imam Al-Azhar.

Cairo Conspiracy: Sebuah Permulaan

Kisah ini bermula ketika Adam, seorang remaja Mesir yang berasal dari pesisir, mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan di Al-Azhar, Kairo. Sebagai seseorang yang datang dari keluarga nelayan, kesempatan ini tentunya menjadi suatu harapan awal Adam untuk mengubah nasib dirinya dan keluarganya untuk kehidupan yang lebih baik. Beasiswa yang ditawarkan padanya pun tersebut ia terima tanpa ragu dengan dukungan sang ayah. Adam pun berangkat ke Kairo.

Di dalam film tersebut, kita dapat melihat kepadatan Kairo dengan balutan suasa kuning-cerah Timur Tengah. Orang-orang sibuk, hilir-mudik ke sana kemari. Lalu kita dapat melihat juga mengetahui bahwa bagi masyarakat Mesir, Al-Azharr adalah suatu institusi yang sangat tua dan memiliki peran sentral bagi seluruh masyarakat Mesir—bahkan mungkin bagi umat Muslim seluruh dunia. Hal itu tergambar jelas dengan dialog penuh harapan ayah Adam pada dirinya, scene di mana Adam dilepas belajar oleh keluarga di kampunya, serta percakapan dengan sopir taksi yang mendoakan agar Adam bisa menjadi syeikh setelah belajar dari Al-Azhar.

Tidak hanya itu, ada beberapa hal juga yang menarik dari Al-Azhar yakni sistem administrasi dan pengajarannya. Kita juga dapat melihat bagaimana hampir keseluruhan sistem administrasi—khususnya yang ditampilkan di film—itu menggunakan cara-cara konvensional tanpa bantuan sistem berbasis mesin supercanggih. Mahasiswa di satukan dalam satu mahad dengan kasur bertingkat yang dalam satu ruangan hampir penuh sampai sepuluh kasur. Tidak lupa pakaian sekolah khas yang dipakai mahasiswanya yakni gamis panjang dengan peci merah-putih yang sangat mencolok. Mahasiswa/i tersebut biasa belajar dengan pakian tersebut di dalam halaqah-halaqah halaman Al-Azhar atau di dalam kelas sekalipun.

Kematian Imam Besar: “Tidak Boleh Ada Dua Firaun dalam Satu Negara.”

Konflik utama film tersebut dimulai pada saat Imam Besar Al-Alzhar meninggal dunia, tidak lama setelah Adam masuk kampus. Mulanya Imam Besar sedang berpidato di hadapan para mahasiswa-mahasiswanya—kurang jelas apakah mahasiswa baru atau bukan—lalu tiba-tiba batuk berdarah. Berita sakit hingga meninggalnya Imam Besar Al-Azhar tersebut diberitakan secara nasional, seolah-olah menjadi headline utama bagi masyarakat Mesir pada saat itu.

Ternyata kabar duka tersebut tidak hanya menjadi berita utama bagi masyarakat Mesir, tetepi juga Pemerintahan Nasional Mesir itu sendiri. Seperti telah kita ketahui di atas, Al-Azhar sebagai institusi tua sangatlah memiliki kekuatan dan legitimasi yang besar untuk kehidupan masyarakat Mesir yang didominasi oleh Umat Muslim. Demikian juga posisi Imam Besar Al-Azhar sebagai suatu tingkat tertinggi dari kekuasaan dari Al-Azhar itu sendiri.

Bukan tanpa sebab Pemerintahan Nasional Mesir memiliki perhatian khusus terhadap pemilihan Imam Besar Al-Azhar selanjutnya tersebut, pasalnya mereka khawatir kekuasaan Al-Azhar tersebut jatuh pada tangan yang nantinya akan menyebabkan terganggunya stabilitas nasioal—atau katankanlah kepentingan dan kekuasaan pemerintahan. Dengan begitu, melalui komponen kenegaraan yang represif—seperti Intelijen, Badan Keamanan Nasional—meraka mulai mengatur siasat untuk berpolitik dan memenangkan calon yang sejalan dengan kepentingan nasional. Operasi tersebut dipimpin oleh Kolonel Ibrahim—salah satu bagian dari Badan Keamanan Nasional Mesir.

Dalam scene pertemuan operasi tersebut, kita bisa melihat pejabat atase tertinggi nasional berkata: “Tidak boleh ada dua firaun di dalam satu negara!”

Dalam menjalankan tugas tersebut, Kolonel Ibrahim memainkan berbagai pion-susupan yang telah dimilikinya di Al-Azhar. Salah satu pion penting, seorang asisten calon Imam Besar terkuat selanjutnya, mengalami masalah karena ketauan sebagai agen pemerintahan. Ia pun diminta mencari pion yang baru dan nahasnya ia mesti merenggang nyawa akibat kegagalan dirinya untuk menyamar.

Di situlah Adam mulai ikut terlibat dalam pusaran besar bayang-bayang tak terlihat Al-Azhar, kemelut politik—sebuah lumpur kotor—di balik kebesaran suatu institusi kegamaan yang terkenal suci dan sebagai mercusuar dunia intelektual Muslim sedunia.

Agama dan Realpolitik

Dalam operasi tersebut, kita bisa melihat suatu fenomena yang bernama realpolitik yang secara sederhana berarti: suatu politik yang didasarkan pada tujuan-tujuan praktis, bukan pada cita-cita atau ide moral yang tinggi dan benar.

Kita dapat melihat bahwa institusi yang memproduksi pengetahuan dan institusi kegamaan seperti Al-Azhar tidak lagi dipahami sebagai institusi yang netral dengan cita-cita idealnya. Sebaliknya, kita melihat Al-Azhar sebagai suatu medan kekuasaan, suatu arena perebutan kepentingan politik. Dalam Cairo Conspiracy jelas perebutan tersebut berputar pada kepentingan berbagai pihak, salah satunya kepentingan negara dengan stabilitas nasional sebagai tujuan utamanya. Dalam praktiknya kita melihat bahwa narasi ideal seringkali kalah oleh kalkulasi dingin yang efektif dan praktis—yang mana kadangkala mesti mengorbankan prinsip-prinsip ideal tersebut. Apapun boleh dijalankan, bahkan cara-cara kotor sekalipun, sejauh calon yang digadang dapat menang dan membawa kepentingan kita—di sini berarti: stabilitas nasional.

Hal tersebut bukan tanpa efek, kita dapat melihat dalam film misalnya, bagaimana negara berupaya mempertahankan legitimasinya dan kepentingannya melalui institusi kegamaa seperti Al-Azhar. Ini berarti, secara tidak langsung, agama dan berbagai institusi yang menyertainya disederhanaklan dengan dingin sebagai suatu instrumen belaka. Instrumen apa? Ya, instrumen untuk mempertahankan kekuasaan tentunya.

Bukan hal yang mengejutkan memang hal seperti itu dapat terjadi, bagi para pembelajar ilmu politik atau filsafat, kita bisa menemukan lusinan teori yang coba membedah dan membahasnya. Salah satu contoh misal, kita bisa melihat misalkan bagaiamana teoritikus kiri seperti Gramsci dan Althusser membahas polemik kekuasaan dan agama tersebut melalui konsep hegemoni dan aparatur negara.

Jika memakai kacamata Althusser, tentunya kita tahu bahwa kapitalisme berupaya melanggengkan dirinya tidak hanya dengan instrumen produksi ekonomi saja, tetapi juga melalui infrastruktur yang bekerja secara halus di alam bawah sadar seperti: agama, pendidikan, budaya dan lain sebagainya. Di dalam film sendiri kita bisa melihat bahwa Al-Azhar sebagai suatu institusi kegamaan memiliki peran yang sangat penting sebagai aparatur ideologis yang berupaya memproduksi narasi kegamaan yang berguna untuk melanggengkan status quo demi mempertahankan relasi eksploitasi dari kapitalisme.

Di dalam film sendiri, tepatnya di bagian akhir, kita dapat melihat bagaiman Imam Besar yang terpilih melalui mekanisme politik kasar tersebut mengisi khotbah Jumat dengan isi ceramah yang menekannya pentingnya keamananketertiban dan bahayanya perang saudara (atau katakanlah secara kasar bahaya pemberontakan, demonstrasi, atau segala bentuk kritik yang bisa menyebabkan perubahan besar). Jelas tentunya, hal demikian adalah suatu fungsi Ideological State Aparatus yang dikenalkan oleh Althusser seperti telah kita jelaskan di atas berbagai fungsi dan pengertiannya.

All Ideological State Apparatuses, whatever they are, contribute to the same result: the reproduction of the relations of production, i.e. of capitalist relations of exploitation. — Ideology and Ideological State, Louis Althusser (1970)

Kita dapat memahami melalui film tersebut, Al-Azhar dengan berbagai instrumen di dalamnya penting untuk memperkuat legitimasi negara melalui produksi narasi terkait pentingnya menjaga stabilitas nasional untuk menekan setiap gerakan yang coba merubah sistem—entah melalui kritik, revolusi atau gerakan-gerakan.

Menjauhkan Diri dari Politik: Sebuah Solusi?

Sedari tadi kita melihat bagaimana politik digambarkan sangat brutal, telanjang dan begitu horor sampai-sampai banyak orang mulai skeptis dan juga pesimis terhadap politik itu sendiri. Politik begitu hina dan kotor untuk dimasuki, begitu banyak korban yang lugu dan tidak tahu apa-apa menjadi korban dari politik itu sendiri. Contohj saja Adam sebagai anak nelayan yang tiba-tiba mesti terseret dalam arena besar kekuasaan tersebut.

Tidak mengherankan justru yang terjadi saat ini, khusunya dalam generasi muda-mudi Indonesia, muncul suatu kegelisahan yang mendalam: “Jika politik itu teramat busuk dan destruktif, tidakkah justru menjauhinya adalah suatu pilihan yang baik dan bermoral?” Kegelisahan tersebut dapat dimaklumi, khususnya dalam kerangka pemikiran sehari-hari, hal tersebut adalah suatu bentuk kemurnian diri.

Tetapi benarkah asumsi tersebut?

Sayangnya, bagi saya sendiri ketidak-terlibatan kita dalam proses politik justru hanya akan menguatkan pihak yang sedang berkuasa karena dengan begitu sistem bisa dijalankan tanpa gangguan. Negara, sistem, atau status quo tidak akan berhenti karena kita menyatakan diri keluar dari dirinya. Masih banyak masyarakat yang memercayai dan menggantungkan hidupnya di atas instrumen negara dengan politik sebagai arena bermainnya. Politik tetap bekerja, entah dalam kerangka yang represif maupun persuasif, di depan panggung atau jsutru menyusup di balik bantal kita setiap hari.

Tidak berhenti di sana tentunya, kita perlu sedikit beranjak lebih jauh juga dari sekadar ayo berpolitk sekarang juga atau ayo masuk partai. Sebelum jauh pergi ke sana, kita mesti terlebih dahulu merumuskan dengan baik mengenai politik seperti apa yang akan kita jalankan, tujuan apa yang akan kita capai serta dengan metode apa kita mencapainya. Tanpa arah, tujuan dan metode yang jelas kita hanya akan terjatuh pada sistem yang sama hanya dengan topeng yang lain.

“Begitulah kekuasaan, ia ibarat pedang bermata dua—dapat menyakiti diri kita sendiri jika tidak mengunakannya dengan hati-hati.” –Cairo Conspiracy

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar