![]() |
*untuk informasi lebih lanjut mengenai latar belakang diterbikannya pamflet, penulis serta perdebatan yang menyertainya disarankan mencari bahan dan informasi lebih lanjut!
Otoritas (authority) dalam pandangan Engels berarti pemaksaan kehendak orang lain atas kehendak kita; dengan kata lain, setiap otoritas berarti mengandaikan adanya subordinasi. Lihat kutipan aslinya di bawah ini:
Authority, in the sense in which the word is used here, means: the imposition of the will of another upon ours; on the other hand, authority presupposes subordination—On Authority, Frederick Engels.
Kita melihat bahwa dalam masyarakat borjuis hari ini—dalam hal ekonomi, baik dalam bentuk industri maupun agrikultur, terdapat kecenderungan untuk menggantikan tindakan individual yang terisolasi (peorangan kali ya) menjadi kombinasi aksi individual yang terorganisir (kelompok). Engels memberikan contoh seperti di bawah ini:
Modern industry, with its big factories and mills, where hundreds of workers supervise complicated machines driven by steam, has superseded the small workshops of the separate producers; the carriages and wagons of the highways have become substituted by railway trains, just as the small schooners and sailing feluccas have been by steam-boats. Even agriculture falls increasingly under the dominion of the machine and of steam, which slowly but relentlessly put in the place of the small proprietors big capitalists, who with the aid of hired workers cultivate vast stretches of land.—On Authority, Frederick Engels.
Bagi Engels sendiri, siapapun yang berbicara mengenai aksi yang terkoodinasi (dalam kelompok terorganisir) berarti berbicara juga mengenai organisasi. Pertanyaan pentingnya: apakah mungkin untuk memiliki suatu organisasi tanpa otoritas?
Di sini Engels berusaha memproblematisir masalah anti-otoritas buta tersebut dengan mengandaikan jika kelas kapitalis lenyap lalu digantikan—katakanlah—dengan pandangan kaum anti-otoritas di mana instrumen kerja seperti mesin dan tanah menjadi kepemilikan bersama pekerja, will authority have disappeared or will it only have changed its form? Let us see.
Engels menunjukkan pada kita bahwasannya otoritas itu tetap ada dengan beberapa contoh:
- Proses pemintalan kapas di pabrik. Engels mengatakan bahwa setidaknya untuk menjadi sebuah benang, kapas mesti melewati enam proses berturut-turut pada saat itu. Proses itu dilakukan di berbagai ruangan yang berbeda. Mesin-mesin tersebut juga mesti dijalankan di bawah pengawasan seorang insinyur, para mekanik yang terus melakukan perbaikan mesin serta para buruh lainnya yang bertugas memindahkan hasil produksi dari satu ruangan ke ruangan lainnya. Buruh pabrik tersebut juga tidak memiliki kebebasan yang luas karena mesti tunduk terhadap kondisi teknis mesin, misalnya jam kerja juga diatur oleh otoritas mesin uap yang sama sekali tidak mengindahkan otonomi individu.
- Contoh kedua yang diberikan Engels dalam tulisannya adalah tentang perkeretaapian. Dalam industri keretaapi, terlihat sangat jelas dibutuhkan kerja-sama dari individu yang sangat banyak dan hal ini mutlak diperlukan. Kerja terkoordinasi tersebut mesti dilakukan pada jam-jam khusus yang telah ditetapkan secara ketat agar tidak terjadi kecelakaan. Di sini terlihat bahwa untuk berjalannya industri keretaapi terhadap otoritas yang sangat jelas.
- Terakhir, kebutuhan akan otoritas—yang sifatnya memerintah secara tegas—tidak ditemukan secara nyata selain di atas sebuah kapal di atas tengah laut lepas. Di saat urgent, penuh rintangan dan bahaya tentunya nyawa semua orang bergantung terhadap kepatuhan kapten kapal. Inilah wujud kepatuhan mutlak semua orang terhaedap kehendak satu orang.
Dengan begitu, bagi Engels, penghapusan otoritas dalam instrumen kekuatan ekonomi sekarang (seperti kita lihat di atas) sama dengan menghapuskan industri itu sendiri. Ia mengandaikannya dengan perumpaan seperti menghancurkan mesin penenun demi kembali ke roda pemintal. Berikut Engels tulis:
If man, by dint of his knowledge and inventive genius, has subdued the forces of nature, the latter avenge themselves upon him by subjecting him, in so far as he employs them, to a veritable despotism independent of all social organisation. Wanting to abolish authority in large-scale industry is tantamount to wanting to abolish industry itself, to destroy the power loom in order to return to the spinning wheel..—On Authority, Frederick Engels.
Selanjutnya bagi Engels sendiri, baik otoritas maupun subdordinasi—terlepas dari bentuk organisasi sosial ataupun entah otoritas itu didelegasikan dengan kepercayaan—itu dikondisikan secara memaksa kepada kita dikarenakan kondisi-kondisi material di mana kita memproduksi dan mendistribusikan hasil produksi tersebut memerlukan otoritas dan juga subordinasi.
Dengan majunya kondisi material produksi dan juga sirkulasi ekonomi, maka berkembang pula industri skala besar dan juga pertanian skala besar yang mana memperluas juga ruang lingkup otoritas yang sudah dijelaskan di atas. Dengan begitu:
It is absurd to speak of the principle of authority as being absolutely evil, and of the principle of autonomy as being absolutely good. Authority and autonomy are relative things whose spheres vary with the various phases of the development of society. If the autonomists confined themselves to saying that the social organisation of the future would restrict authority solely to the limits within which the conditions of production render it inevitable, we could understand each other; but they are blind to all facts that make the thing necessary and they passionately fight against the word...—On Authority, Frederick Engels.
Di sinilah poin kritik Engels terhadap orang-orang yang anti-otoritas secara absolut. Engels mengatakan bahwa baik otoritas maupun otonomi adalah suatu hal yang relatif, yang mungkin berubah sesuai dengan tahapan perkembangan sejarah masyarakat itu sendiri. Ia juga dapat memaklumi kaum anti-otoritas jika mereka mengatakan bahwa organisasi sosial di masa depan akan membatasi otoritas-nya semata-mata pada batas yang dibutuhkan oleh kondisi-kondisi produksi. Nyatanya, kaum anti-otoritas tersebut buta terhadap semua fakta itu dan dengan penuh gairah ceunah memengari kata. otoritas.
Engels lebih lanjut mengkritik mereka juga dalam persoalan penghapusan negara politik. Bagi Engels, setelah dihapusnya negara politik dengan otoritas politiknya, ia akan berubah menjadi suatu fungsi administratif yang sederhana yang secara langsung mengawasi kebutuhan asali masyarakat—yang mana masih membutuhkan, setidaknya, otoritas. Tetapi kaum anti-otoritas menuntut penghapusan negara politik sekarang juga, sekaligus, dar! Bagi Engels hal ini adalah suatu bentuk absurditas dari kalangan anti-otoritarian.
- Bagaimana bisa menghapus negara-politik sekarang juga tanpa menghancurkan lebih dahulu kondisi sosial yang menyertainya?
- Revolusi sendiri adalah suatu bentu otoritas di mana satu golongan memakasakan kehendaknya kepada golongan lain melalui kekerasan. Melalui bayonet, senapan ataupun meriam. Setelah mendapatkan kemanangan sekalipun, kondisi tersebut hanya bisa dipertahankan melalui pemaksaaan kehendak terhadap kaum reaksioner.
- Would the Paris Commune have lasted a single day if it had not made use of this authority of the armed people against the bourgeois? Should we not, on the contrary, reproach it for not having used it freely enough?—On Authority, Frederick Engels.
Bagi saya sendiri, Engels menolak program penghapusan otoritas secara absolut karena dengan begitu kita akan terjerumus pada peperangan semu melawan kata-kata dengan mengabaikan kondisi material dan historis secara faktual. Hal ini tentunya memberikan suatu polemik positif di antara kalangan sosialis, marxist bahkan anarkis sekalipun untuk dapat mendefinisikan ulang otoritas secara baik dan memandangnya secara realistis. Tidak hanya berangkat dari reaksi moral semu yang tidak disertai analisa realistis terhadap kenyataan masyarakat saat ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar