Jumat, 30 Januari 2026

Karl Marx: Kritik Atas Manusia Abstrak Feuerbach



 “God is the manifestation of man’s inner nature, his expressed self; religion is the solemn unveiling of man’s hidden treasures, the avowal of his innermost thoughts, the open confession of the secrets of his love.” — Ludwig Feuerbach on The Essence of Christianity.

Ludwig Andreas von Feuerbach adalah seorang filsuf asal Jerman yang dikenal melalui idenya terkait konsep agama sebagai sumber keterasingan manusia dari dirinya sendiri. Feuerbach juga dikenal sebagai seorang Hegelian Kiri yang berposisi kritis terhadap pemikiran-pemikiran Hegel, sama seperti Marx yang nantinya akan banyak terinspirasi oleh Feuerbach dalam mencetuksan ide terkait MDH dan juga konsep alienasi pada moda produksi kapitalis. Dari sini bisa kita ketahui bahwa baik Marx maupun Feuerbach adalah Hegelian Lovers yang mengambil interpretasi radikal atas ajaran-ajaran Hegel.

Selain banyak dipengaruhi dan memiliki posisi kritis terhadap ajaran Hegel, Karl Marx sendiri bisa dibilang adalah fanboy kritis Feuerbach. Ia terkesima terhadap kritik Feurbach yang berhasilkan membalikkan idealisme Hegel menjadi konsep materialisme yang ia cetuskan. Namun begitu, Marx juga mengkritik konsep alienasi Feuerbach yang  menurutnya kurang memadai dalam menjelaskan sebab terjadinya alienasi terhadap manusia. Manusia dalam pandangan Feuerbach, menurut Marx, masih abstrak—dengan begitu Feuerbach masih terjebak dalam konsep idealisme yang ia sendiri kritisi.

            Feuerbach: Tuhan Sebagai Proyeksi Diri

            Feuerbach beranggapan bahwa Hegel telah memutarbalikkan kenyataan dengan mengatakan ide sebagai inti realitas, sedangkan bagi Feurbach sendiri apa yang mendasari realitas mestilah didasarkan pada sesuatu yang tak terbantahkan. Menurut Feuerbach sendiri, sesuatu yang tak terbantahkan itu adalah alam material. (Suseno, 2000) Kesimpulan ini dicapai Feuerbach melalui pemahaman bahwa manusia sebagai subjek itu menyadari dirinya lewat pembedaan antara dirinya dengan alam. Dengan begitu, alam material sebagai objek menjadi suatu dasar tak terbantahkan sebagai syarat hadirnya kesadaran manusia. (Hardiman, 2004).

            Sejalan dengan apa yang disampaikan Feuerbach melalui pengandaiannya tentang mata yang melihat langit:

     The eye that looks into the starry heavens, that contemplates the light that bears neither use nor harm, that has nothing in common with the earth and its needs, this eye contemplates its own nature, its own origin in that light.

            Selain dapat menyadari dirinya dengan memikirkan serta membedakan alam dengan dirinya sendiri, dengan kesadaran itu manusia juga dapat menjadikan mode of being dari dirinya sendiri sebagai objek kesadaran secara tak terbatas. Fungsi kesadaran manusia pun di sini tidaklah terbatas karena jika kesadaran memiliki keterbatasan maka itu bukanlah kesadaran. (Feuerbach, 1841)

Feuerbach mengatakan bahwa esensi absolut dari diri manusia itu adalah penalaran, kehendak, dan juga hati. (Feuerbach, 1841) Ketiga hal tadi dapat manusia idealisasikan sampai tak terhingga karena kemampuan kesadaran untuk memahami sesuatu dengan tidak terbatas, dengan begitu maka manusia menciptakan apa yang disebut sebagai ‘Allah.” Proses idealiasasi esensi manusia secara sempurna itu jelas tergambarkan dalam sifat-sifat Allah yang melingkupi mahatau, mahabaik, dan maha pengasih lagi penyayang. Maka dari itu, Tuhan atau Allah itu sendiri bagi Feuerbach tak lain daripada proyeksi akan esensi dari diri manusia itu sendiri.

What man calls Absolute Being, his God, is his own being. The power of the object over him is therefore the power of his own being. Thus, the power of the object of feeling is the power of feeling itself; the power of the object of reason is the power of reason itself; and the power of the object of will is the power of the will itself” — Ludwig Feuerbach on The Essence of Christianity.

Proyeksi esensi manusia pada sesuatu yang disebut Allah yang sempurna itu bagi Feurbach adalah suatu hal yang mengalienasi manusia dari dirinya sendiri. Hal ini dapat dijelaskan bahwa dengan memproyeksikan esensi manusia ke luar dirinya, manusia menjadikan esensi dirinya sebagai objek yang terpisah dan otonom dari dirinya sendiri. Konsekuensinya adalah dengan kesempurnaan proyeksi itu manusia mesti menghadapi hasil proyeksinya sendiri, manusia pun merasakan bahwa hasil proyeksinya sendiri menghadapi dirinya sebagai objek. (Hardiman, 2004)

Konsekuensi tersebut terlihat dalam ritus-ritus keagamaan yang menganggap bahwa manusia adalah mahluk pendosa dan serba lemah sementara Tuhan adalah ia yang mahabaik dan mahakuasa. Manusia menjadi takut akan esensi dirinya tersebut yang terproyeksinya sebagai Allah dan mulai menyembahnya sebagai sesuatu yang di luar dirinya, padahal bagi Feurbach sendiri apa yang dikatakan sebagai Allah itu sendiri tak lain adalah esensi dari manusia itu sendiri. (Feuerbach, 1841) Allah tak lain adalah suatu bentuk antromorfisme, suatu bentuk pemberian atribusi kemanusiaan pada entitas yang bukan manusia.

Maka dengan begitu agama sebagai suatu realitas yang hadir pada diri manusia telah menjadi kenyataan negatif yang mengasingkan manusia dari hakikatnya sendiri. Melihat kenyataan yang seperti itu, manusia harus bisa bangun dari keterasingannya dan melampaui teologi menuju antropologi. Manusia harus melampui proyeksi-proyeksinya sendiri lalu menjadikan dirinya sebagai subjek yang dapat mencapai potensialitas hakikatnya sendiri.

Kritik Marx akan Konsep Manusia Abstrak Feuerbach

            Beberapa konsep serta kritik Marx terhadap Feurbach dapat kita lihat dari beberapa tulisan  seperti Theses on Feurbach , The Jews Question, serta A Critique of Hegel’s Philosophy. Tulisan ke depannya akan mendasarkan diri pada ketiga tulisan Marx tersebut serta berbagai buku sekunder yang merujuk padanya, ini penting untuk disebutkan karena kita tahu di kalangan Marxist sendiri sering terjadi perdebatan terkait transisi fase intelektual Marx yang terbagi menjadi dua antara Marx Muda dan Marx Tua. Maka jika mengacu pada proses perdebatan itu, apa yang akan penulis sedikit diskusikan adalah masa Marx yang belum mencapai posisi definitifnya, atau bisa dikatakan masa di mana Marx (masih) Muda.

            Marx sejalan dengan anggapan Feuerbach terkait keberadaan agama sebagai buah rekaan manusia dan bukan sebaliknya. (Marx, Critique of Hegel’s Philosophy of Right, 1844) Namun, Marx mengkritik Feuerbach karena Feuerbach memahami manusia di sana sebagai entitas yang abstrak. Padahal agama tidaklah dihasilkan oleh manusia yang abstrak, agama diproduksi oleh manusia yang memiliki relasi dengan hubungan sosial pada corak masyarakat tertentu.

Maka dari itu agama adalah hasil produksi dari hubungan sosial manusia yang ada secara kongkrit  (Marx, Theses on Feuerbach, 1845). Manusia kongkret di sini mesti dipahami sebagai manusia yang hidup pada zaman dan pada corak masyarkat tertentu. Seperti yang Marx katakan dalam Critique of Hegel’s Philosophy of Rights (1844):

“Religion is, indeed, the self-consciousness and self-esteem of man who has either not yet won through to himself, or has already lost himself again. But, man is no abstract being squatting outside the world. Man is the world of man — state, society.”

Maka dari itu titik dasar untuk mengentaskan persoalan alienasi manusia adalah bukan dengan berusaha membongkar agama. Bagi Marx sendiri, agama hanyalah salah satu ungkapan keterasingan manusia dari keterasingan yang lebih mendalam yaitu dari sifat sosialnya sendiri. Hal itu terlihat dalam kondisi masyarakat modern  yang terbagi antara civil society—lingkunan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya di luar keluarga dan negara—dan negara itu sendiri. (Suseno, 2000)

Dalam corak masyarakat modern, manusia bersikap egois untuk memenuhi kebutuhan praktis dirinya sendiri. Hal tersebutlah yang menjadi dasar dari civil society, semua digerakkan menuruf nafsu egoistik. Namun, di sisi lain manusia juga menjadi mahluk bermoral dan bersifat sosial dikarenakan adanya hukum tertinggi yang mendapatkan bentuknya dalam negara. Dengan begitu, bisa dikatakan bahwa manusia terasing dari dirinya sendiri yang memiliki sifat sosial dengan memisahkan kesosialannya itu pada hal yang di luar dirinya yakni negara. (Suseno, 2000) Dengan begitu manusia terasing dari dirinya sendiri dengan negara sebagai ungkapannya.

Sikap egoisme itu juga muncul dalam fungsi keagamaan di mana manusia seharusnya dapat merealisasikan hakikatnya alih-alih memproyeksikan ke luar dirinya. Maka dari itu kritik agama mestilah berpindah menjadi kritik terhadap tatanan sosial yang ada, salah satu alternatif yang diberikan Marx untuk keluar dari alienasi ini adalah dengan emansipasi manusia yang ditulis Marx dalam On Jewish Question (1843):

Only when the real, individual man re-absorbs in himself the abstract citizen, and as an individual human being has become a species-being in his everyday life, in his particular work, and in his particular situation, only when man has recognized and organized his “own powers” as social powers, and, consequently, no longer separates social power from himself in the shape of political power, only then will human emancipation have been accomplished (Marx, On The Jewish Question, 1843)

Maka dari itu kritik ini tidak hanya berkisar pada tataran teoretis saja, namun harus bergerak lebih jauh melampauinya: menuju kritik praktisnya. Seperti yang diungkapkan Marx dalam ujarannya yang paling terkenal:

The philosophers have only interpreted the world, in various ways; the point is to change it.” (Marx, Theses on Feuerbach, 1845)

Daftar Pustaka

Feuerbach, L. (1841). The Essence of Christianity. https://www.marxists.org/reference/archive/feuerbach/works/essence/.

Hardiman, B. (2004). FIlsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzcshe. Yogyakarta: Gramedia Pustaka.

Marx, K. (1843). On The Jewish Question. Diambil kembali dari marxist.org: https://www.marxists.org/archive/marx/works/download/pdf/On%20The%20Jewish%20Question.pdf

Marx, K. (1844). Critique of Hegel’s Philosophy of Right. Oxford: Oxford University Press.

Marx, K. (1845). Theses on Feuerbach. Diambil kembali dari marxist.org: https://www.marxists.org/archive/marx/works/1845/theses/theses.htm

Suseno, F. M. (2000). Pemikiran Karl Marx. Jakarta: Gramedia Pustaka.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar