Kamis, 22 Januari 2026

Cairo Conspiracy: Antara Iman, Kekuasaan dan Politik.

Tahun lalu, sebelum pemilihan paus yang baru, kita dikejutkan dengan diedarkannya film berjudul Conclave (2025) yang berhasil mempotret dengan baik rangkaian proses pemilihan paus yang baru dengan suatu sistem yang bernama konklaf. Di sana kita bisa melihat intrik politik dari berbagai faksi dengan berbagai kepentingannya saling beradu mencari suara demi mengamankan posisi paus. Suatu jabatan yang nantinya akan menjadi rantai tertinggi dalam komando keagamaan Umat Katolik sedunia.

Jauh sebelum Conclave yang disutradai oleh Edward Berger tersebut, ternyata ada juga yang berhasil mempotret bagaimana agama dan legitimasinya menjadi instrumen yang sangat penting dalam mempertahankan kekuasaan. Hal itu dipotret juga dengan baik oleh film yang disutradarai oleh Tarik Saleh dengan judul: Cairo Conspiracy atau dalam bahasa Mesir mereka menyebutnya Boy from Heaven. Bedanganya dengan Conclave, Cairo Conspiracy menyorotinya dari sudut pandang dunia Islam-Mesir yang sangat tergantung pada posisi Grand Imam Al-Azhar.

Selasa, 13 Januari 2026

Ilusi Absolut Anti-Otoritas: Membaca On Authority Frederick Engels.

Di bawah ini suatu rangkuman dan sedikit interpretasi ala-ala dari pamflet Frederick Engels berjudul On Authority

*untuk informasi lebih lanjut mengenai latar belakang diterbikannya pamflet, penulis serta perdebatan yang menyertainya disarankan mencari bahan dan informasi lebih lanjut!

Selasa, 19 April 2022

Oh ya Allah, Aku Ingin Mencintaimu ala-ala Generasi Z

 


Hari ini sedang malam-malam karena di luar gelap gulita, hanya bulan di sana berdiri dengan cantik. Matahari sedang pulang kerja, istirahat di rumahnya. Sementara aku belum tidur, mengetik-ngetikan jari di laptop ini. Mencoba menulis karena entah harus apa lagi, hanya memuaskan dorongan untuk menceritakan apa yang ingin diceritakan. Semoga saja terpuaskan, walau jujur aku dilahirkan bukan untuk jadi alat pemuas.

Malam ini ditemani musikalisai puisi dari Jalaluddin Rumi yang entah mengapa aku tiba-tiba saja mengetik hal itu di kolom Youtube, lalu ku-klik saja salah satu pilihan yang menampilkan dua orang piawai ini meracik puisi indah itu. Lirik-liriknya diambil dari Ghazal—semacam bentuk puisi Arab—Rumi nomor 1499, 1497, 1496. Kalian mesti mendengarkannya, kalau mau. Rasanya seperti di Timur Tengah sana, seperti apa namanya ... fatamorgana.